Selasa, 29 Mei 2012
Minggu, 27 Mei 2012
Jumat, 25 Mei 2012
the adventurer (part 1)
kuliah di POLBAN itu............... subhanallah sekali yah! kalo ada libur selain weekend kayanya semua mahasiswanya sujud syukur. kuliah di POLBAN = KULIAH RODI. tiada hari tanpa tugas. kalo pulang kampus habis dzuhur itu luar aneh, dan kalo sehari aja ga ada tugas namanya luar biasa!! Refreshing refreshing refreshing.................................. kuliah jam terakhir kemaren ga ada dosen, dan karna 'kebetulan' di akhir bulan ini msh ada lebihan uang jadi deh kita Refreshing (rahma, hera, filia)
Rabu, 23 Mei 2012
final project (reading assignment again and again)
Name : Rahmawati
NIM : 115311024
Class : IG- 1A
Sintren, the Origin
Mystic Art from Cirebon
I choose the
art of Cirebon as a topic for my final project. I come from Cirebon, so I want
to introduce the traditional art from my city which different from other. In
Cirebon, there is a traditional dance which called as the origin mystic dance.
It is Sintren.
Sintren is
one of the long traditions of coastal people of the North Coast (coast) of West
Java. This art has become a rare performances even in areas Sintren own birth.
Sintren in development now, at best can only be enjoyed once a year on the ceremonies
than nadran marine, or at a celebration-a celebration of people gedean (rich).
Based on information from various sources cirebon tradition among artists,
Sintren becoming known in the early 1940s, the name itself is not clear Sintren
come from nowhere, but he said Sintren is the name of the girl dancers who are
still to be staring in this performance. Sintren is the habit of the mother and
son and daughter who were waiting for their husbands / fathers came home from
fishing at sea. "Rather than sleep in the afternoon, the fishermen are not
out catching fish, better make an interesting game," said Juju. Sintren
game that continues almost every afternoon and become an integral part of their
life, then gradually turned into a game Sintren sacred fishermen waiting to go
home. Until now even Sintren become a noble heritage that needs to be
preserved. In further developments, Sintren played by the fishermen around the
village for a gig anywhere, and it turns out from the circumference of the
money they get a pretty good saweran. From the beginning just to add money
kitchen, Sintren be the object of making a living to live.
Why Sintren
is called as the origin mystic dance? Because in the midst of performance,
Sintren tied with ropes from neck to toe, so that it is impossible to untangle
these Sintren in quick time. Then Sintren incorporated into a carangan
(confinement), which closed cloth, having previously given replacement clothing
supplies. When it is asked at the dancer (Sintren) after the show, pleaded not
unconscious of what he was doing on stage, although occasionally there was also
throwing his body with small objects. This mystery has not yet been revealed,
is it true under a Sintren consciousness or just to be optimized in this rare
performance. A former Sintren who declined to be named said he had so Sintren
and really realize what he was doing on stage, but because the demands of the
show then he should do a scene fainted.
If I want to compare Sintren with another traditional dance from West Java, it’s really different. Some people said that Sintren is origin mystical arts from Cirebon, although another traditional dance from West Java like Jaipong also has beautifulness itself. Jaipong, is a musical performance genre of the Sundanese people in the Sundanese language of West Java, Indonesia. Jaipongan includes revived indigenous arts, like gamelan, but it also did not ignore Western music completely despite the ban on rock and roll. It used its sensuality and the sensuality found in a traditional village music and dance, ketuk tilu. However, many believe it is something purely Indonesian or Sundanese in origin and style.
If I want to compare Sintren with another traditional dance from West Java, it’s really different. Some people said that Sintren is origin mystical arts from Cirebon, although another traditional dance from West Java like Jaipong also has beautifulness itself. Jaipong, is a musical performance genre of the Sundanese people in the Sundanese language of West Java, Indonesia. Jaipongan includes revived indigenous arts, like gamelan, but it also did not ignore Western music completely despite the ban on rock and roll. It used its sensuality and the sensuality found in a traditional village music and dance, ketuk tilu. However, many believe it is something purely Indonesian or Sundanese in origin and style.
Arts Sintren
coastal folk tradition is a legacy that must be maintained, given the cultural
values strong in it, regardless of whether there majis influence in it or not.
Sintren adds a long list of cultural treasures of wealth as a legacy of
traditions of our ancestors. On the other hand, this certainly is a good
development, but on the other hand this also challenge for the heir Sintren to
maintain this tradition.
Selasa, 08 Mei 2012
THE LAST SONG
a story about family, first loves, second chances, and the moments in life that lead you back home
the most awesome scenes which i loved
untuk (calon) suamiku
Bismillah….
Wahai seseorang yang telah tertulis
dalam lauhul mahfudz-ku, imamku dan ayah dari anak-anakku, engkau
yang membersamai perjalananku nanti…
Apakah yang sedang kau lakukan di
sana?
Aku percaya kau sedang memperbaiki
dirimu, memantaskan dirimu tuk menjadi imam bagi tulang rusukmu dan buah hatimu
kelak…
Aku percaya kau sedang menempa
dirimu dalam beribu cobaan dengan menelantarkan dirimu sendiri pada medan
dakwah dan problematika ummat… mencampakkan jauh egomu, membaktikan dirimu tuk
ummat…
Aku percaya kau sedang mengkaji, kau
sedang belajar, belajar ilmu dunia terutama ilmu akhirat, yang akan kau gunakan
dalam mendidikku dan buah hati kita nanti…
Aku percaya Quran selalu ada dalam
hatimu, selalu terucap dari bibirmu dan dzikir slalu melantun menemani langkah
jihadmu…
Aku percaya kau sedang menundukkan
pandanganmu, menjaga hatimu dan mencampakkan hawa nafsumu…
Aku percaya kau sudah merancang
hidupmu, hidup kita, keluarga kita, nantinya juga untuk dakwah, untuk ummat,
dan hanya karnaNya…
Aku percaya, kau sedang memantaskan
diri dan terus memperbaiki diri di sana, di belahan bumi manapun kau berada…
Aku pun begitu sayang…
Aku sedang belajar… belajar menempa
diri, menjauhkan egoku demi ummat, membaktikan diriku untuk orang lain, agar
baktiku padamu pun sempurna…
Aku sedang belajar, meniti dakwahku,
meniti cita-cita duniaku, meniti cita-cita akhiratku, agar kelak keluarga
Islami dan kluarga Qur’ani yang aq inginkan nanti dapat kubangun bersamamu…
karna kau tahu? meskipun kau imamku, ibu adalah madrasah pertama bagi mujahidah
kecilnya nanti…
Aku sedang belajar menjaga diri,
menjaga pandangan dan hatiku, agar ketika kau memiliki hati ini, hati ini masih
utuh sempurna hanya untukmu…
Aku sedang menempa diri, untuk
menjadi seorang Khadijah untukmu, yang menjadi tempatmu membagi resah…
seseorang yang kau datang padanya, saat kau tak tahu lagi akan datang pada
siapa… seseorang yang menguatkanmu dan menggenggam slalu tanganmu dalam
perjalanan jihadmu…
Akupun ingin menjadi ‘Aisyahmu,
seorang yang membuatmu tersenyum dan kembali ceria saat penatmu mulai datang,
seorang yang menyerap ilmu darimu dengan sempurna dan membenarkan apa-apa yang
salah dalam lakumu, seseorang yang mencintaimu dengan cemburunya, namun kau
rasakan sakitnya, saat ia tersakiti, hingga kau katakan pada yang lain
“janganlah kau sakiti aku dengan cara menyakti ‘Aisyah”…
Aku ingin menjadi Fatimah, yang tak
kau bagi cintamu pada yang lain.. bukan karna aku tak percaya kau tidak dapat
berlaku adil, tapi karna aku ingin mencintaimu dengan sempurna, tanpa diganggu
oleh cemburuku, itu saja…
Tak kalah lagi, aku ingin menjadi
seperti ibunda hajar, yang tak gentar saat kau tinggalkan di padang pasir
tandus dengan seorang bayi mungil dipelukan.. tak takut akan kehilanganmu,
karna keyakinanku pada Rabbku lebih besar daripada yakinku padamu… cintaku
padamu, tak akan mengalahkan cintaku pada Rabbku…
Usahaku ini tidak mudah sayang,
begitupun usahamu…kuyakin itu…
Maka tetaplah dalam jihadmu…tetaplah
dalam usahamu…tetaplah dalam ikhtiarmu… aku yakin kau kuat di sana, dan
doakanlah agar akupun kuat di sini dalam jihad dan ikhtiarku…bawalah aku dalam
tiap doa dan sujudmu, kumohon… karna doa yang dapat menolongku…
Hingga saatnya, kita bertemu dalam
ikatan suci menyempurnakan separuh dien… dan kita akan melanjutkan jihad kita
bersama…
Dan nanti…terimalah aku apa adanya
jika aku belum bsa mejadi khadijahmu, ‘aisyahmu atau bahkan menjadi seperti
ibunda hajar… tapi bimbinglah aku menjadi seperti mereka… dan kita bimbing
bersama mujahid muda kita nanti tuk melanjutkan estafet perjuangan dakwah ini…
Teruntukmu yang ada di sana,
kuatlah…dan bersabarlah…
Bawalah aku dalam doa dan sujudmu,
agar cinta kita nanti, hanya karnaNya…aamiin…
Source: dari website islam (lupa nama
linknya)
Minggu, 06 Mei 2012
Langganan:
Postingan (Atom)







.jpg)









.jpg)
